Sabtu, 18 Mei 2013

Taman Mini Indonesia Indah




Danau Arsipel


Tanggal Kunjungan: 18/11/2012


Saat kami berkunjung ke TMII hari sudah mulai mendung, namun karena sudah di tengah jalan kami hanya bisa berharap-harap cemas, smoga hujan tidak semakin deras dan membatalkan acara jalanjalan kami.

Ternyata hujan tetap turun walau tidak terlalu deras, berhubung areanya luas, saya menyarankan ke pusat informasi terlebih dahulu untuk meminta peta TMII agar bisa menentukan arah tujuan dengan lebih mudah, mengingat cuaca yang kurang bersahabat.

Biaya masuk TMII skitar 9000 per orang untuk di atas usia 3 tahun. Untuk mobil Rp. 10.000, motor Rp. 6.000

Setelah memperoleh peta, kami memutuskan untuk menuju stasiun kereta gantung atau skylift terlebih dahulu, karena wahana ini yang terdekat dengan area parkiran. Tiket skylift Rp. 25.000 per orang untuk hari libur dan Rp. 20.000 per orang hari biasa.

Terdapat 3 stasiun skylift dan saat kita menaiki, kita harus membeli tiket terlebih dahulu dan tangan kita akan di stempel untuk menandakan lokasi stasiun kita naik.

Skylift TMII belum secanggih skylift Ancol, pintu masih di buka secara manual, dan berukuran lebih kecil namun tetap mampu menampung kami semua yang berjumlah 5 orang ( 4 dewasa 1 anak balita) tanpa berdesakan. Kacanya agak buram dan bagian dalamnya agak panas, jadi buka saja kaca bagian atas agar ada udara masuk biar tidak terlalu sumpek.

Menaiki skylift memiliki sensasi sendiri, kita bisa menyaksikan banyak area TMII seperti berbagai anjungan, danau, istana anak-anak dari ketinggian. Hal ini mengasyikkan terlebih untuk anak-anak. Walau gerimis kami tetap bisa menikmati wahana ini dengan baik.

Selepas menaiki skylift, tujuan berikutnya adalah stasiun Aeromovel Titihan Samirono/kereta yang berjalan di jalur khusus yang lebih tinggi. Tiketnya skitar 15.000 per orang dan sepertinya hanya beroperasi sabtu-minggu.

Sebelum sampai di Aeromovel, kami melewati Snowbay, yang merupakan wahana renang terbaru di TMII. Kami belum berkesempatan main kemari, mungkin di lain waktu, karena menurut informasi yang kami baca, tempat ini berkonsep area bersalju. Tiket masuk 120.000 per orang untuk hari libur dan 100.000 per orang untuk hari biasa.

Setelah memarkir mobil di dekat stasiun Aeromovel dan membeli tiket, kami harus berjalan naik ke atas stasiun. Sesampainya di atas, tinggal menunggu kereta yang akan datang.

Aeromovel (Kereta Titian Samirono)


Kereta akan berhenti di beberapa stasiun, jadi pastikan anda mengingat stasiun tempat anda naik bila anda ingin kembali ke tempat awal.

Bagian belakang kereta adalah bagian favorit, karena jendelanya terbuka lebar, jadi sekalian untuk ventilasi kereta berhubung aeromovel ini tidak berpendingin udara.

Namun ada kejadian yang cukup mengganggu saat naik aeromovel, walau tertulis tanda dilarang merokok, tetap saja ada seorang Bapak yang merokok dengan asyiknya. Kalau hal ini terjadi pada anda, tegur saja ya, karena di dalam kereta kan banyak anak-anak dan merokok itu jauh lebih merugikan orang yang tidak menghisap rokok secara langsung di banding si perokok. Toh sudah ada tanda larangannya juga di dalam kereta.

Di luar kejadian yang agak mengganggu itu, naik aeromovel merupakan pengalaman yang menyenangkan untuk kami semua terlebih untuk anak-anak.

Beranjak dari aeromovel, kami menuju ke anjungan Sumatera Barat, daerah parkir agak padat tapi Alhamdulillah kami mendapat tempat untuk parkir.

Sebelumnya kami sempat melewati wahana balon udara raksasa, yang dapat kita naiki. Berhubung cuaca sedang mendung dan hujan gerimis jadi kami tidak mengunjungi area tersebut.Tiket naik balon udara hari libur 120.000 dewasa 90.000 anak-anak, hari biasa 90.000 dewasa dan 60.000 anak-anak.

Memang berwisata di TMII lebih enak kalau kita bawa kendaraan, baik itu mobil atau motor karena jarak yang berjauhan dan lebih menguntungkan saat cuaca berubah mendadak. Untuk yang tidak membawa kendaraan ada fasilitas mobil keliling Rp. 3000/orang, yang akan berhenti di tempat-tempat tertentu sesuai jalur mereka. Bila ingin lebih bebas, kita bisa mencharter mobil keliling tersebut selama 1 jam dan berhenti di tempat-tempat yang kita mau dan penumpangnya bisa rombongan kita saja, jadi tidak bercampur dengan pengunjung umum. Harga charter Rp. 60.000. Fasilitas mobil besar atau bus juga tersedia untuk di charter per jam skitar Rp. 150.000

Bagian dalam anjungan Sum-Bar


Kami segera melangkahkan kaki ke anjungan Sumatera Barat. Masuk anjungan gratis. Area anjungan hari ini ramai pengunjung, ada yang berfoto-foto, mengunjungi rumah adat bahkan ada anak-anak yang bermain bola. Yang terakhir ini sebetulnya gangguan sih, karena banyak pengunjung tapi ada yang main bola di dekat rumah adat. Usut punya usut, ternyata ada acara pertemuan atau gathering orang Minang, yang sepertinya rutin di adakan. Biasanya per kota atau per suku atau per keluarga besar.

Alasan saya memilih anjungan ini pun, karena kami juga orang Minang, dan ini kesempatan menunjukkan sedikit gambaran daerah asal kepada anak-anak kami. Berhubung saat Akasyah kami bawa mudik, dia masih berumur 11bulan sementara Dzikri belum pernah sama sekali ke kampung asalnya.

Di dalam rumah adat yang paling besar, terdapat display pakaian adat, pelaminan dan kamar. Semuanya tertata rapi dan bersih, hanya agak gelap saja.

Di area ini juga terdapat fasilitas toilet yang cukup bersih, musholla yang berbentuk rumah adat  mini yang juga tertata rapi, juga ada area rumah makan padang tentunya.

Selain itu ada beberapa pejaja jamu gendong, minuman hangat, bahkan atraksi topeng monyet yang bisa kita beri uang seikhlasnya.

Namun satu hal yang baru di beberapa lokasi wisata TMII yang baru saya sadari (berhubung terakhir kali saya kemari skitar 17 tahun yang lalu ^^;) adanya badut-badut hewan berwarna-warni. Awalnya saya pikir mascot baru TMII kali ya, jadi saya pun meminta putra bungsu saya untuk berfoto, setelah beberapa jepretan, para mascot itu menunjuk-nunjuk dada mereka. Di bagian dada memang ada kantung, saya pikir variasi kostum ternyata itu tanda mereka minta di bayar. Tentu saja kami kaget, kami kira mereka seperti mascot tempat wisata lainnya, gratis dong untuk foto-foto.  Begitu tahu bayar terkejut juga. Suami saya hanya memberi uang ke mascot yang memang berfoto dari awal dengan anak kami.

Menurut saya hal ini agak mengganggu, karena tidak ada penjelasan dari awal soal hal tersebut, walau saya mengerti mereka mencari rejeki, dan kita bisa memberi mereka seikhlasnya, hanya terkadang mereka tiba-tiba langsung ‘nebeng’ foto seperti yang saya alami saat di Istana anak-anak. Walau saya sudah memberi tahu mereka saya tidak perlu mascot, ada juga yang agak memaksa.. Hanya terasa aneh saja berfoto dengan mascot yang membayar sepertinya hanya TMII ya sejauh yang saya tahu..

Kami tidak bisa terlalu lama di area anjungan, setelah sholat kami harus cari tempat untuk buka ransum. Berhubung area anjungan Sumbar tidak ada area luas yang tertutup untuk lesehan, perjalanan kami teruskan ke Istana Anak-Anak.

Beruntungnya kami, Istana Anak-Anak berseberangan dengan Taman Plaza Arsipel Indonesia yang berbentuk seperti Amphiteater tertutup. Setelah parkir, kami langsung memasuki area Plaza. Ternyata di dalamnya sudah ada orang-orang yang berpikir sama seperti kami. Banyak orang yang menikmati bekal di dalamnya, dan juga ada penjual-penjual minuman sachet hangat di dalam plaza. Sayangnya plazanya agak kotor, karena di jadikan tempat makan, tong sampahnya penuh dengan bekas makanan, bahkan ada plastic sampah besar yang tergeletak begitu saja dengan sampah-sampah juga. Selain itu juga ada ceceran air bekas orang mencuci tangan ataupun air yang mungkin tertumpah.

Tapi pemandangan plaza yang menghadap danau arsipel dan area yang luas serta terbuka cukup bisa membantu untuk mengindahkan hal-hal di atas. Pintar-pintar cari tempat yang bersih saja dan anda tetap bisa menikmati acara makan bersama ^^

Di Danau arsipel kita bisa menaiki wahana perahu kecil atau sepeda air yang berbentuk angsa, tiketnya kisaran Rp. 7500-Rp.10.000

Istana Anak-anak

Stelah makan siang usai, kami pun menuju Istana Anak-Anak. Bangunan fisik istana ini tetap cantik seperti dulu sewaktu saya kecil, walau di bagian atasnya ada yang sedikit agak tua. Di lokasi wisata ini terdapat berbagai macam wahana yang tiketnya harus di bayar lagi secara terpisah. Tiket masuk istana anak-anak Rp. 5000 per orang.

Memasuki istana ini terdapat replica permainan tradisional, dulunya sewaktu saya kecil di Istana Anak-anak terdapat mesin cerita rakyat, sayangnya mesin itu sudah tidak ada lagi. Kini sayap kanan dan kiri bagian dalam istana anak-anak di gunakan untuk latihan menari tradisional.

Di bagian belakang istana, terdapat aula terbuka ‘Graha Seni Atmaja’ yang saat kami datang baru saja di gunakan untuk lomba tari dan lukis tingkat SD.

Selain itu ada akses tangga untuk naik ke atas istana hingga kita bisa melihat sekeliling komplek istana anak-anak.

Fasilitas permainan yang ada di Istana anak-anak di bagian luar berbagai macam, ada kereta api kelinci (tiket 5000 per orang) yang akan membawa kita keliling tidak hanya di area Istana anak tapi juga melewati area luarnya seperti anjungan Papua.

Ragam permainan lainnya yang ada di Istana Anak-anak seperti kolam renang, tiket 15.000, mandi bola, bom bom car, pesawat terbang mini, monorail, komedi putar, roda tamasya, giring ombak, kiddt boat dan battery car. Tiket permainan-permainan ini dari Rp. 3000 – Rp. 10.000

Setelah puas di Istana Anak-anak, kami memutuskan untuk menuju tempat wisata lainnya yang sejalan dengan pintu keluar dan tempat untuk menunaikan sholat Ashar, di tambah lagi hujan mulai turun sedikit lebih deras.

Tempat wisata di TMII terakhir yang kami kunjungi adalah Dunia air tawar dan Serangga, tiket masuk Rp. 15.000 sudah termasuk 2 tempat tersebut.

Sebelum memasuki area Dunia air tawar, terdapat kolam berisi ikan-ikan berwarna warni. Kita juga bisa memberi mereka makan dengan pakan yang di jual per bungkus Rp. 2000. Dunia air tawar adalah kumpulan akuarium berisi koleksi hewan-hewan yang hidup di perairan air tawar, ada bermacam-macam ikan, belut dan juga kura-kura di dalamnya. Tempat ini terdiri dari 2 lantai, dan koleksinya banyak. Kekurangannya tempat ini agak gelap.

Di bagian tengah ada area air terjun buatan yang bagus, sementara di bagian atas tidak sempat kami jelajahi karena di luar semakin deras hujannya dan kami belum menunaikan sholat Ashar.

Sementara yang lain melaksanakan sholat di musholla dekat museum serangga yang agak sempit, karena kebetulan sedang ada rombongan juga yang sholat di situ, Akasyah dan pengasuhnya yang sedang berhalangan sholat pergi melihat-lihat museum serangga. Ia menyukai area tersebut, terlebih area kupu-kupu. Sayangnya kami tidak sempat lagi, melihat antrian mobil yang semakin banyak menuju pintu keluar, kami harus cepat atau bisa terjebak macet.

Masih baaanyaak lagi objek wisata di TMII, yang belum sempat kami lihat dan coba seperti:
-Kereta mini
-Theater Keong Mas
-Teater 4D
-Taman Burung
-Berbagai macam museum dan anjungan

Kami pun berencana untuk mengunjungi TMII kembali di lain waktu, smoga tidak kena hujan lagi ya J

Jalanjalanbersamakeluargayuk..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar