Rabu, 16 Januari 2013

Taman Impian Jaya Ancol - Gelanggang Samudra



Tanggal kunjungan 04/03/2012

Luasnya area Taman Impian Jaya Ancol membuat kami sekeluarga mengunjungi area ini sampai 5x, karena saya juga masih punya putra yang berumur 7 bulan, jadi tidak bisa memaksimalkan waktu sekuat tenaga kami, tapi harus menyesuaikan dengan si kecil :)

Kali ini kami mengunjungi Gelanggang Samudra, karena berkeinginan agar anak-anak kami bisa melihat aktifitas hewan-hewan yang habitatnya berdekatan atau bahkan di dalam air.

Kami agak kesorean sampai di tempat, karena terhalang hujan dan persiapan untuk Dzikri. Sekitar pukul 1500 baru kami memasuki area gelanggang samudra. Sewaktu itu ada promo dengan salah satu supermarket waralaba, jadi harga tiket yang kami bayarkan adalah harga khusus. Sayangnya saya lupa berapa yang kami bayarkan, karena sibuk dengan anak bungsu saya. Namun promo-promo seperti ini rutin di lakukan oleh supermarket waralaba ataupun merk-merk produk minuman atau dari pengelola kartu SIM telepon genggam.

Sayangnya kami mendapat informasi bahwa 'Pentas Lumba-lumba' masih dalam status renovasi. Padahal suami saya ingin sekali menonton pertunjukan tersebut, serta mengenalkan ikan besar favoritnya kepada anak-anak kami . 

Tapi kekecewaan suami tidak berlangsung lama, ia dan anak-anak kembali asyik melanjutkan perjalanan untuk mengunjungi tempat-tempat pertunjukan lainnya.

Banyak perubahan di Gelanggang Samudra, saya sendiri terakhir kemari juga sudah belasan tahun. Sudah ada wahana-wahana berupa balon-balon terbang (ubur-ubur), pesawat terbang (boto-boto) yang konsep keduanya seperti wahana gajah bleduk di Dufan dan bumper car (Laga Lagon).

Kolam Angsa

Lalu areanya juga lebih teratur dan asri. Ada hewan-hewan yang bisa kita lihat seperti kebun binatang mini. Anak-anak kami senang melihat hewan-hewan ini.

Jumlah pertunjukan juga lebih banyak, seperti yang tercantum di bawah ini:

-Pentas aneka satwa yang terdiri dari Linsang, beruang madu, kakatua dan kuda nil
-Pentas Lumba-lumba (saat kami datang sedang di renovasi)
-Pentas bawah air dan lumba-lumba (underwater show) pentas dalam ruangan antara lumba-lumba dan manusia dengan spesial efek.
-Pentas bajak laut (Scorpion pirates show) pentas luar ruang dengan setting pertempuran bajak laut dilengkapi dengan spesial efek dan stuntman show


Bioskop 4D

Selain itu gelanggang samudra juga di lengkapi dengan teater atau bioskop 4D dengan berbagai pilihan film seperti 'Little Prince', 'Turtle vision' dan yang terbaru 'Dora Adventure'. Sebetulnya Dora salah satu film favorit anak saya, hanya karena dia takut kegelapan, dia tidak masuk menonton. Jadilah para pengasuh yang nonton sementara saya dan suami menemani anak-anak melihat-lihat burung-burung dan area sekitar, serta beli souvenir gelembung sabun dan stiker.

Tempat sholatnya juga cukup besar dan ada 2 selain itu area makannya juga terdapat berbagai pilihan.

Yang asyiknya, banyak petugas yang akan memandu dan memanggil-mangil pengunjung bila ada pertunjukan yang sudah akan di mulai, dan membimbing ke area tersebut. Untuk memastikan kita semua bisa menyaksikan pertunjukan-pertunjukan itu. Jadi ngga bingung melihat jadwal dan memilih.

Pertunjukan pertama yang kami kunjungi adalah live show bajak laut, Scorpion. Pertunjukannya sendiri menarik untuk orang dewasa dan mungkin untuk anak-anak yang sudah memahami, bahwa pertunjukan ini hanya pura-pura. Walau menurut saya, semestinya acara ini tidak bisa di tonton anak-anak, karena adegan dan bahasanya tidak terlalu mendidik. Bahkan baru setengah acara di mulai anak saya dan beberapa anak lain sudah keluar dalam keadaan menangis, mereka ketakutan dengan suara ledakan dan speaker suara yang terlalu kencang serta efek panas dari adegan api. 

Saya saat itu ada di luar menemani putra saya yang baru berumur 7bulan. Karena saya tidak ingin gendang telinga anak bungsu saya terganggu dengan efek suara dari show tersebut. Sewaktu anak sulung saya masuk, saya sempat berharap-harap cemas mengenai kemungkinan ia akan terganggu dengan pertunjukan tersebut. Umurnya sudah 4 tahun dan ternyata sesuai dugaan saya...ia ketakutan dan juga beberapa anak lainnya.

Beberapa pentas mungkin kurang cocok untuk anak-anak usia tertentu. karena hal-hal di bawah ini:
1. Scorpion, terlalu banyak ledakan, ada efek api dan suaranya menggelegar. Beberapa anak berhamburan sambil menangis di tengah acara. Kalaupun putra-putri anda sudah cukup umur, saran saya tetap jelaskan pada mereka mengingat bahasa yang digunakan agak kurang halus untuk anak-anak.
2. Underwater show, pertunjukan tarian di dalam air bersama lumba-lumba, dan pesut. Tempatnya gelap seperti menonton dalam bioskop, padahal tidak sedikit anak-anak yang takut akan kegelapan. Belum lagi speaker suaranya juga kencang sekali ya. Sekali lagi anak-anak saya lari keluar dan juga beberapa anak lainnya. Akhirnya anak-anak saya bawa ke perpustakaan atau rumah pintar yang langsung penuh dengan anak-anak yang juga merasakan hal yang sama dengan putra-putri saya. Sementara suami, saya minta bersama para pengasuh untuk tetap menonton, karena sayang juga kan sudah terlanjur di sini..
3. Pertunjukan anjing laut dan aneka satwa, speaker suaranya lagi-lagi luar biasa kencang. Semestinya tidak perlu sekencang itu, tidak baik untuk pendengaran. Banyak orang tua yang akhirnya menonton sambil berdiri, walau masih ada bangku-bangku kosong. Untuk jaga2, klo anaknya nangis mereka tinggal gendong dan bawa keluar, dan itu juga yang kami lakukan.

Anak bungsu saya hanya menonton pentas aneka satwa setelah pertunjukan tinggal separuh, itupun bergabung dengan para orangtua di dekat pintu. Sementara anak sulung saya tidak mau menonton sama sekali.

Pentas Anjing Laut


Setelah di bujuk-bujuk, ia akhirnya mau menonton pentas anjing laut. Itupun sambil di gendong papanya, dan perlahan-lahan di bawa mendekati tempat duduk. Dia menonton dengan telinga di tutup. Kasihan juga, padahal dia tertarik memperhatikan polah tingkah si anjing laut, hanya suara pembawa acara memang menggelegar sekali, bahkan untuk orang dewasa skalipun.

Lepas dari kekurangan-kekurangan tersebut, Gelanggang samudra tetaplah tempat rekreasi yang menarik untuk anak-anak. Saya dan suami berencana membawa anak-anak lagi ke tempat ini, karena masih banyak yang belum sempat kami lihat dan coba seperti menonton pentas si ikan pintar, lumba-lumba, mengunjungi akuarium air tawar, akuarium air laut, kolam kuda nil, kolam angsa, dan kolam pelatihan. Smoga berikut kalinya kami ke sana,  anak-anak mau melihat pentas anjing laut dan satwa. Memang tidak bisa di paksakan, semuanya harus di nikmati.

Smoga juga pihak Gelanggang Samudra pun memperhatikan apa yang membuat beberapa pengunjung tidak nyaman terkhusus soal sistem suara yang terlalu menggelegar, karena saya yakin keluarga saya bukan satu-satunya yang merasakan hal tersebut. 

Jalanjalanbersamakeluargayuk :)



Taman Impian Jaya Ancol - Pantai dan Sekitarnya

Pantai Ancol

Bulan November 2012, saya jalanjalanbersamakeluarga ke Pantai Ancol. Setibanya di sana setelah lebih dari 10 tahun tidak berkunjung ke Pantai Ancol, saya kaget melihat area pantai untuk bermain jadi semakin mengecil. Saya dan suami sempat terbengong-bengong melihat areanya...

'Ngga salah nih?' tanya saya
'Sepertinya bener kok' sahut suami saya, walau di wajahnya juga tergambar jelas kebingungan tersebut.

Dalam ingatan kami Pantai Ancol itu besar dan luas. Masih saya ingat jarak antara tepi pantai yang berpasir dengan air laut dengan ombak-ombaknya masih harus di jangkau dengan langkah-langkah panjang. Tapi kini, jaraknya begitu dekat, terlalu dekat malah.

Semua pengunjung menumpuk di tepi pantai, saya beberapa kali harus minta permisi karena melewati banyak tikar pengunjung lainnya. Area pasirnya pun terlihat padat dengan keluarga yang bercampur aduk. Sementara air laut sudah tidak lagi hijau seperti dulu saya acap renangi, sudah mulai keruh kehitaman atau coklat tua. Bahkan sempat ada pengalaman tidak enak, yang di alami pengasuh Akasyah, Putri saya, saat menemani anak saya berenang, Rizki si pengasuh menemui (maaf) kotoran manusia mengambang di sampingnya. Dia langsung histeris, dan para perenang di sekitar itu langsung bubar kayak di kejar hiu....
Tidak bisa di mengerti, siapa yang bisa-bisanya buang air di situ ya? 

Selain itu, area renang di batasi dengan jaring pengaman, mungkin karena efek erosi dan demi keamanan pengunjung. Hanya dulu, saya ingat mampu melihat laut sejauh mata memandang.

Saya berharap ke depannya tetap bisa di lakukan pengelolaan yang lebih baik, agar airnya tidak sekeruh itu.

Lepas dari semua kekurangannya, pantai Ancol tetap memiliki daya pikat sendiri. Tempat ini menawarkan aktifitas di luar ruangan yang cukup komplit. Bila anda bosan dengan aktifitas jalan2 di mall dan ingin mengenalkan ke anak2 kegiatan luar ruang di Jakarta, Ancol tetap salah satu pilihan yang cukup baik.

Selepas main di pantai. Tersedia pincuran bilas dan kamar bilas walau tidak terlalu besar, tapi cukup rapi, hanya akan lebih baik bila di tambah lagi ya, kalau sedang banyak pengunjung, antrinya lumayan lama. Selain itu bila anda dan keluarga atau teman2 tidak membawa tikar, ataupun bekal semua tersedia di sana.

Tikar bisa di sewa, harganya waktu kami berkunjung di November 2012 sekitar 50.000, sudah cukup untuk 6 orang + 1 batita. Toh kebanyakan anggota keluarga langsung ngacir ke pantai, dan tinggallah si penjaga barang bergantian :)

Untuk tempat makan juga variatif, ada Bandar Jakarta, Sambara, Solaria, Mc Donalds dan masih banyak lagi yang belum sempat saya perhatikan.

Bila sudah puas bermain di pantai, kita bisa berjalan ke sebelah kanan dari area berenang, di sini pantainya jauh lebih sempit, karena jaring pembatas hampir mendekati tepi pantai. Sepertinya erosi di bawahnya sudah cukup parah. Tapi area berpasir bersih, dan bisa di gunakan untuk bermain bola sepak, seperti yang di lakukan banyak keluarga.. Untuk area ini, para pengunjung tidak duduk di sekitar pantai berpasir. Tapi duduk di area yang lebih tinggi yang di tumbuhi banyak pepohonan.

Dermaga


Selain itu kita juga bisa berjalan-jalan ke area dermaga. Di sini kita bisa berlayar dengan perahu, sayangnya saya lupa menanyakan tarif naik perahu tersebut karena asyik menikmati pemandangan di dermaga. Untuk yang hobi foto-foto, area dermaga ini jadi spot yang bagus. Bila ada membawa anak balita atau batita, harap di perhatikan, jarak kayu pembatas atas dan bawah agak besar, jaga-jaga kalau si kecil iseng ingin memanjat atau menjorokkan badannya lebih jauh karena ingin melihat laut lebih jelas.

Kereta Mini



Keluar dari area sekitar pantai, terdapat kereta mini. Harga tiketnya sekitar 5000-7500. Trajeknya hanya lurus, maju-mundur, dari area pantai (tidak jauh dari resto Mc Donalds's) sampai ke pemakaman Belanda, melewati Taman Bende, dengan gong raksasanya. Walau singkat tapi bisa menjadi pengalaman yang mengasyikkan untuk anak-anak. Seperti yang dirasakan putra-putri saya :)

Untuk transportasi keliling area pantai, terdapat bus wara-wiri yang tidak di kenakan biaya.
Dalam Gondola

Setelah puas, di sekitar pantai, kami menaiki mobil untuk ke stasiun Gondola. Fasilitas rekreasi dalam bentuk kereta gantung. tiket menaikinya 60.000 bila anda nasabah dari bank-bank tertentu atau anggota seperti Honda motor club bisa mendapatkan diskon khusus. Hanya promo ini selalu berubah-ubah sesuai perjanjian kerja sama mereka.
Kereta gantungnya sendiri, sekilas saya pikir kecil, dan mungkin tidak cukup menampung 6 orang + 1 batita. Tapi setelah naik ke atas dan melihat langsung gondola-gondola tersebut, ternyata muat lho :)

Gondolanya lebih besar dari kereta gantung di TMII, kacanya juga masih bersih jadi bisa jelas melihat pemandangan ke luar, dan ada lubang udara yang bisa di buka-tutup lebih mudah. Selain itu pintunya menutup dengan sistem otomatis. Kalau anda takut ketinggian, seperti yang di alami pengurus rumah saya, Ayu, alihkan ketakutan itu dengan pemandangan sekeliling. Kita bisa melihat halilintar (salah satu wahana di DUFAN), spiral seluncur di kolam renang Atlantis, lalu area pantai secara lebih luas lagi. Kita juga bisa melihat kapal-kapal pengangkut. 

Melalui pemandangan dari atas gondola ini, ternyata kami melihat area pantai lainnya yang lebih luas, dan besar serta jarak antara tepi pantai dan pantai cukup lebar. Hmmm..sepertinya tadi kami masuk ke area pantai wisata yang lebih sempit. Lain kali kami akan mengunjungi pantai satunya lagi Insya Allah.

Ada 2 pos gondola, tiket yang di bayarkan untuk perjalanan pulang pergi dari pos pemberangkatan. Di tengah-tengah ada pos yang berisi dekorasi hutan, lengkap dengan kijang dan pepohonan kecil, namun karena areanya tidak terlalu besar, agak terasa pengap ketika melewatinya.

Pengalaman naik gondola ini benar-benar menyenangkan, anak sulung saya sampai ketagihan mau naik lagi, tapi tiba2 terlihat awan mendung di kejauhan. Karena takut terjebak hujan dan bisa terperangkap macet, kami memutuskan untuk menyudahi dulu acara jalanjalanbersamakeluarga kali ini.

Rabu, 02 Januari 2013

Tentang Blog ini

Assalamua'laikum Warahmatullahi wa Barakatuh, salam kenal untuk semua pembaca.

Selamat datang di Blog saya ^_^

Kalau di ingat-ingat, saya mengenal aktivitas jalan-jalan atau tamasya bersama keluarga sudah sejak dini. 

Saya ingat Alm. Mama saya bercerita, pertama kali saya di ajak ke luar kota saat umur 1th 10 bulan, langsung ke kampung halaman, Bukittinggi -Sumatera Barat, via laut dengan kapal Tampomas. 

Fotonya masih ada di rumah, di bingkai khusus sama Alm. Mama. Saking bahagianya bisa bawa anaknya jalan-jalan, mengingat kondisi ekonomi keluarga saat itu masih belum bisa di katakan baik, tapi beliau menyisihkan uangnya demi cita-cita membawa putri sulungnya ke kampung halaman selain untuk merayakan upacara adat 'mem Bada' anak' (Sebuah acara adat di SumBar, khusus untuk anak dari anak perempuan pertama. Hal ini berkaitan dengan tradisi matrilineal 'urang Minang'), beliau juga ingin saya mengenal kampuang nan jauah di mato tapi dakek di hati ( kampung yang jauh di mata tapi dekat di hati). Agar saya tidak lupa akar budaya saya, dan hal ini beliau kenalkan ke semua anak-anak beliau. Hingga saya dan adik-adik memiliki kebanggaan akan suku asal dan mampu berbahasa Minang walau tidak sebaik cengkok asli mereka yang di besarkan di tanah kelahiran bertahun-tahun.

Saya pun berniat melakukan hal yang sama untuk anak-anak saya. Karena seiring dengan perkembangan zaman, banyaknya budaya Internasional yang masuk dapat mempengaruhi anak-anak kita ke depannya.

Tidak di pungkiri, masuknya budaya luar memiliki sisi positif dan negatif. Karenanya, saya harus mempersiapkan putri-putra saya. Walau mereka nantinya bisa berbahasa asing, tapi mereka pun juga harus bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan sekurangnya mengerti akan bahasa daerah asal mereka, lebih bagus lagi kalau 'pandai bacakap Minang' (bisa berbahasa Minang). Seperti Ibunya yang Alhamdulillah menguasai 3 bahasa asing, tapi juga bangga berbahasa Indonesia dan bahasa Minang.

Ketika ekonomi keluarga Alhamdulillah mulai mengalami kenaikan, Alm. Mama yang memang suka jalan-jalan, mulai rutin mengajak putri-putrinya road trip. Mulai dari Bandung, Surabaya, Bali hingga Sumatra Barat, di tempuh dengan mobil dan menyeberang laut menggunakan kapal Ferry.

Saat ekonomi Alhamdulillah semakin membaik lagi, adik bungsu saya lahir. Road trip masih acapkali di lakukan khususnya ke Sumatra Barat, juga ke Sumatra Utara, Riau, melewati Lampung, Palembang dan Bengkulu. Namun frekuensi terbanyak di lakukan dengan pesawat terbang, dan menyambangi banyak kota-kota lainnya di Indonesia serta luar Indonesia.

Kelas 1 SMP adalah pertama kalinya saya melakukan perjalanan ke Luar negeri bersama Alm. Mama. Beliau sudah lebih dulu menyambangi luar Indonesia, saat melaksanakan ibadah haji, umrah dan perjalanan ke Malaka-Kuala Lumpur di Malaysia.

Negara pertama yang saya kunjungi adalah Singapura dan Brunei Darussalam. Seringnya perjalanan saya lakukan bersama Alm. Mama dan adik perempuan saya, kami bertiga trio jalan-jalan. 

Saya banyak melakukan jalan-jalan, baik dengan keluarga maupun teman-teman. Dalam kota, luar kota maupun luar negeri (saat saya melakukan kuliah).

Dari sekian banyak perjalanan, ternyata yang meninggalkan kenangan-kenangan paling berkesan adalah saat saya jalan-jalan bersama keluarga. Baik itu hanya bertiga (trio perempuan dalam keluarga saya) ataupun komplit lengkap dengan Papa dan adik lelaki saya.

Bukan berarti saat dengan teman-teman tidak menyenangkan, perjalanan-perjalanan itupun meninggalkan kenangan yang manis.
Bahkan kalau saya membaca buku-buku travelling saat ini yang mulai marak, saya iri sekali karena begitu banyaknya kemudahan di zaman kini untuk anak-anak muda. Tiket pesawat ekonomis banyak, hotel-hotel budget tersebar, fiskal bebas dan banyak lagi kemudahan-kemudahan. 

Saya ingat acara jalan-jalan dengan teman-teman sebatas tur sekolah, dan ketika kuliah di luar, setelah tabungan dari gaji kerja saya cukup, baru bisa melakukan perjalanan antar beberapa kota di Eropa, itupun lebih banyak dengan kereta api, walau ada sesekali dengan pesawat easy jet, tapi saat itu belum ada lagi pilihan maskapai ekonomis lainnya. Pertimbangannya lebih saklek karena info soal transportasi, akomodas dengan budget terbatas belum banyak, jadi kita pun trial-error. 
Paling kasihan waktu ke Italia dengan Alm. Mama dan adik perempuan saya, saking susahnya informasi, kami sempat dapat hotel yang kurang bagus, liftnya mati, penarik koper kami patah oleh salah satu porter, plus sempat diare karena makan di tempat yang kurang higienis.

Tapi kehadiran buku-buku travelling, membangkitkan lagi semangat jalan-jalan dalam diri saya, walau saya tahu dengan kehidupan setelah pernikahan, saya tidak bisa seenaknya mengatur acara jalan-jalan seperti saat saya masih lajang dan bersama keluarga saya. Banyak pertimbangan, khususnya anak-anak saya yang masih balita dan batita.

Karena itu saya mulai jadi kolektor buku-buku travelling karya anak bangsa. Untuk panduan kalau saya bisa jalan-jalan bersama keluarga saya.

Selain itu saya ingin mengulang kembali momen-momen indah saat berjalan-jalan bersama keluarga. Karena keluargalah yang paling banyak menemani hidup saya dalam waktu-waktu selanjutnya. Teman-teman banyak yang sulit di jangkau setelah lepas dari tiap jenjang pendidikan, walau masih menjalin hubungan. Tapi semuanya tidak sama lagi, untuk ketemuan sekedar beda area antar Jakarta - Tangerang saja agak sulit mengaturnya, kecuali kalau belum ada ikatan pernikahan. Kalau sudah ada yang berkeluarga, lebih sulit lagi.

Lebih jauh lagi, bepergian dengan keluarga mendekatkan saya dengan orangtua dan adik-adik saya. Walau kini dengan urusannya masing-masing, karena selain saya, adik perempuan saya juga sudah berkeluarga, adik bungsu saya sibuk dengan urusannya pula, bahkan Ayah saya pun setelah berpulangnya Mama telah menemukan pasangan hidupnya lagi juga tetap banyak kesibukannya. 
Namun kami semua tetap berusaha menyisihkan waktu untuk sekedar hang out bareng, baik tanpa atau dengan rombongan komplit istri, menantu, cucu-cucu dan pasukan pengasuh n supir. Baik di dalam kota ataupun luar kota, walau khusus untuk kesempatan jalan-jalan bersama keluarga ke luar kota masih belum lewat dari hitungan 3 jari.

Terinspirasi dari semua kenangan jalan-jalan bersama keluarga, yang awalnya rutin di gagas Alm. Mama, saya pun menularkan kebiasaan jalan-jalan bersama keluarga, sedari putri pertama saya umur 6 bulan, dan putra bungsu saya pun langsung di ajak jalan-jalan bersama keluarga sejak umur 6 bulan. Alhamdulillah, dapat pasangan hidup yang juga menyukai kebiasaan ini, karena ternyata keluarganya juga punya hobi yang sama. Jadilah acara jalan-jalan bersama keluarga makin semarak dengan mertua, tante mertua, paman mertua, sepupu-sepupu dari keluarga suami dan ipar-ipar, serta keponakan-keponakan.

Saya ingin anak-anak saya membangun ikatan kekeluargaan sedari kecil, karena keluarga yang Insya Allah tidak akan pernah menjauh, sebanyak apa pun kesibukan mereka semua nantinya. Melalui jalan-jalan bersama keluarga, saya bangun ikatan tersebut selain itu juga untuk mengenal perkembangan kota Jabodetabek, melihat indahnya kota-kota di negeri tercinta, Indonesia dan perkembangan negara-negara lainnya.

Di tambah lagi, banyaknya catatan perjalanan yang menarik hati di angkat dari para penulis blog karena kecintaan mereka yang tidak hanya sekedar menulis, tapi juga dari esensi jalan-jalan itu sendiri dan keinginan untuk berbagi informasi yang sangat membantu. Maka saya pun juga ingin mulai menulis dan membagi pengalaman saya dan keluarga.

Blog ini merupakan catatan perjalanan saya dan keluarga. Sebetulnya sudah lama sekali saya ingin membuat blog ini, namun banyaknya aktifitas menimbulkan rasa malas karena sudah keburu di hadang keinginan untuk leyeh-leyeh di kasur dan tidur, begitu ada waktu saat anak-anak sudah pulas di alam mimpi atau pun asyik curhat dengan suami tentang hari-hari.

Namun malam ini, saya memutuskan untuk mulai menulis, sebelum ingatan saya semakin kabur, dan langkah sudah terlalu panjang. Hingga semakin bingung harus memulai dari mana. 

Semoga blog ini dapat membantu banyak keluarga pada khususnya walaupun judulnya 'Jalanjalanbersamakeluargayuk' tapi pembaca umum pun tetap bisa membaca catatan ini, agar dapat membantu menentukan arah acara jalan-jalan mereka. 
Semua pendapat ini adalah pendapat pribadi saya, bila bagus di mata saya , memang belum tentu bagus di mata orang lain, namun smoga tetap bisa memberi banyak masukan yang berguna. 
Bila ada yang kurang di mata saya , dan tenyata tidak masalah di mata yang lain, semua pendapat ini bukan bermaksud menjelekan suatu tempat, namun memang seperti itu keadaan dan pengalaman saya dan keluarga saat itu. 
Yang smoga juga bisa menjadi catatan untuk semuanya, baik pembaca atau pengelola tempat yang kami kunjungi.

Blog ini saya niatkan untuk hal positif bukan negatif, jadi di mohon agar para pembaca semua dapat menerima dengan besar hati. Bila ada masukan atau saran yang dapat membuat blog ini menjadi lebih baik lagi, pastinya saya akan berterima kasih sekali. Tentu saja saya harapkan masukan atau saran tersebut juga tidak melupakan kesantunan dalam berkomunikasi.
So let's have a trip with our family ! Jalan-jalan bersama keluarga yuk !

Bismilahirahmannirahim